Takjil Ramaikan Ramadan

Sabtu , 18 Juni 2016 16:16

Haidar Majid (INT)

DPRDSULSELnews.com -

COBALAH berjalan-jalan keliling kota ba'da ashar di Bulan Ramadhan, niscaya kita akan temukan sejumlah pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, menawarkan aneka panganan buka puasa yang mengundang selera. Oleh banyak kalangan, panganan ini sering diasosiasi atau dinamai dengan "takjil" atau "tak'jil". Apapun jenis makanannya, tetap saja namanya tak'jil, apalagi jika makanan itu berasa manis.

Entah kapan kita mulai mengassosiasi atau menemai makanan manis untuk buka puasa itu dengan takjil, yang pasti, mindset kita telah bersepakat bahwa panganan manis untuk buka puasa itu disebut saja sebagai takjil. Untuk menjelaskan isi dagangannya, tidak sedikit yang menulis spanduk "menjual atau menyediakan takjil". Begitu pula dengan para penderma yang memiliki kelebihan dan berhasrat atau sedang berbagi makanan buka puasa, mereka menemai kegiatan tersebut sebagai kegiatan "berbagi takjil".

Takjil dalam Bahasa Makassar disebut sebagai "pabbuka". "La kamae ki?", "la maea abboya pabbuka", "mau kemana?", "mau nyari takjil". "Pabbuka" beda dengan "a pabbuka". A pabbuka sendiri adalah orang yang memberi makan kepada mereka yang berpuasa atau belakangan kita namai sebagai "buka puasa bersama", mengundang handai taulan, sahabat, sejawat, kerabat, kolega, untuk datang ke rumah atau ke suatu tempat, dengan niat buka puasa bersama, ini yang disebut sebagai "a pabbuka".

Seperti juga di tempat lain, pedagang takjil yang berderet di beberapa ruas jalan Kota Makassar, selain menyediakan panganan untuk buka puasa, sepertinya sedang menjelaskan kepada kita, betapa kita kaya akan kuliner. Hampir tak ada lagi jenis makanan tradisional yang tersisa, semua tergelar dengan apik, berwarna-warni dan tentu saja mengundang selera. Ada pisang ijo, dadara santang, pallu golla, loppis, pallu butung, tari'-taripang, sanggara balanda, putu mayang, songkolo bandang, kopi langi', sikaporo', es buah dan masih banyak lagi. Sesuatu yang patut disyukuri.

Tangan-tangan kreatif, terutama ibu-ibu, mampu menyulap sejumlah bahan mentah seperti pisang, beras ketan, gula merah, kelapa; menjadi benda ajaib yang sangat dirindukan saat berbuka puasa, takjil. Bukan itu saja, saya membayangkan bagaimana ibu-ibu itu berupaya 'menahan godaan' produksi makanan mereka untuk tidak mencobanya, apalagi mencicipinya, karena setahu saya, umumnya ibu-ibu yang membuat makanan tersebut, juga sedang berpuasa.

'Menggelar' takjil tidak saja dilakukan oleh para pedagang jelang buka puasa. 'Masyarakat Sosial Media', juga tak ingin ketinggalan dalam mempertontonkan takjil yang sebentar lagi akan menemani buka puasanya. Aneka panganan 'tersaji' di dinding-dinding akun media sosial dengan berbagai macam 'caption' diantaranya, "nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan" dan "berbukalah dengan yang manis".

Sumber  : (Haidar Majid)


  • SHARES